Langsung ke konten utama

MUSHOLA DAARUL IMAN CABANG BANDUNG

Tujuan utama diutusnya Rasulullah SAW adalah sebagai rahmat bagi semesta alam ini, sebagaimana dinyatakan Allah dalam Al-Qur’an, sebagai konsekuensi logis dari fungsi dan tujuan Ke-Rasul-an tersebut, maka rasulullah menanamkan dasar-dasar karakteristik islam yang umumnya merupakan sejumlah nilai dan norma yang mengatur manusia dan masyarakat dalam hal yang berkaitan dengan peribadatan, social, ekonomi, politik, yang bersumber dari Al Qur'an dan sunnah, yaitu : Ukhuwah (persaudaraan), Al-Musawa (persamaan), Al-tasamuh (toleransi), Syuro (musyawarah), Al-ta'awun (tolong menolong), dan Al-adalah (keadilan).
Dari enam rukun iman yang diyakini umat Islam, ada dua yang tidak gaib, yaitu sosok Nabi Muhammad sebagai sosok historis dan kitab suci Alquran yang bisa kita baca dan kaji kandungannya, merupakan pintu gerbang ajaran Ilahi yang mengajarkan umat ini untuk hidup dan berkehidupan yang ”rahmatan lil alamin”. Mempelajari sejarah terutama rasulullah sebagai Matsl Al-A’la (tipe ideal), berguna sebagi i’tibar (pengambilan pelajaran dan tauladan) dari contoh-contoh di masa lampau, sehingga memberikan azas manfaat secara lebih khusus demi keberlangsungan hidup umat.
Bila kita mengacu pada fakta historis keadaan umat islam (masyarakat muslim) pada zaman Rasullullah maka kita akan menemukan suatu kondisi masyarakat yang berperadaban tinggi, saling menghormati, tolong menolong, saling menyayangi, toleran, dan jalinan solidaritas sosial diantara mereka yang begitu indahnya. Hal ini terjadi karena adanya komitmen mereka pada sunnah-sunnah rasul dan kemampuan mereka  untuk memposisikan rasul sebagai teladan dan panutan yang terbaik serta aplikasi mereka terhadap esensi ajaran islam yang syamil / komprehensif.
Jika kita bandingkan kondisi kehidupan bermasyarakat pada zaman rasulullah dengan kondisi sosial  dewasa ini di negeri kita, Indonesia, sebuah negeri yang berketuhanan dan dihuni oleh mayoritas ummat Nabi Muhammad saw, maka kita akan melihat suatu perbedaan yang signifikan, di mana masyarakat kita saat ini sedang menghadapi sebuah krisis moral di setiap lapisan sosial dalam masyarakat, mulai dari tindakan kekerasan, penindasan terhadap yang lemah sampai kepada maraknya mafia hukum dan peradilan, ditambah dengan terkotak-kotaknya umat muslim karena kefanatikan dengan suatu golongan, belum lagi dengan krisis global, yang telah menghancurkan sendi-sendi  perekonomian dunia dan berdampak pada terpuruknya laju perekonomian, kemudian bencana alam melanda negeri ini hingga menyengsarakan sebagian rakyat Indonesia. Umat islam sebagai penghuni  mayoritas di negeri tercinta ini jelas yang paling terkena imbas krisis tersebut, dapat terlihat oleh kita kemiskinan  merajalela sehingga banyak saudara kita menjerit dengan beban ekonomi yang semakin menghimpit.    
Realitas Faktual diatas tersebut sudah seharusnya menggugah kita untuk mewujudkan kepedulian sosial dan mempertebal  rasa solidaritas diantara kita selaku umat yang inti ajarannya adalah cinta kasih dan persaudaraan, demi untuk meningkatkan jalinan ukhuwwah yang telah sejak dahulu disinyalir oleh Nabi Muhammad SAW, sebagaimana sabdanya  : “Muslim dengan muslim lain adalah saudara, layaknya  tubuh manusia, sehingga dimana salah satu organ tubuh merasakan sakit maka organ-organ tubuh yang lainnya-pun sama merasakannya”.
Berpijak dan mengacu pada esensi ajaran islam yang tersimpul pada cinta kasih, perdamaian dan saling tolong menolong serta semangat ukhuwwah islamiyah maka kami, yang tergabung dalam sebuah ikatan keluarga besar “MUSHOLA DAARUL IMAN CABANG BANDUNG” bermaksud mengadakan Blog ini untuk menumbuh-kembangkan solidaritas ummat dan terciptanya jalinan ukhuwwah diantara sesama muslim bukan untuk saling menjatuhkan,perdebatan,perselisihan sesama umat islam, selain itu untuk menggugah semangat kepedulian sosial dalam masyarakat demi untuk menimgkatkan iman dan taqwa kepada Alloh Swt.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayahanda KH Enjang Wahyudin, Pimpinan Daarul Iman Garut Cibolerang

Ajakan yang salah

                                                              “ Jadi Jalma Mah Kudu Hese Di Ajak Salah”

Cerpen Belajar Mengaji Di Madrasah Al Hidayah

Belajar mengaji di madrasah Al hidayah Eloknya sore hari kala itu tak ubahnya hanyalah sebuah pemandangan terhadap sekumpulan anak kecil yang saling berebut bola sesama temannya. Lapang yang lumayan luas merupakan tempat bermain, bercanda bagi sekumpulan anak-anak pada saat itu. Sekumpulan temannya memilih menonton di  pohon kelapa yang menjulang tinggi di tepi jalan. Merasa tempat paling aman  untuk menyaksikan temannya yang  telah asik bermain bola  tanpa menghiraukan keringat  yang  bercucuran di keningnya. Hanya rasa gembira yang dirasakan pada waktu. Semangat untuk hidup lebih lama telah dirasakan pada saat pijakan kaki-kaki kecil yang lincah itu menembus bumi . Tidak ada kesempatan sedikit pun bagi alam untuk merusak suasana gembira di sore hari itu . Namun dengan kejadian seperti itu pandanganku tiba-tiba dialihkan oleh sesosok anak-anak kecil  yang berpakain muslim ditepi jalan sana. Tepatnya di seberang lapangan bola tempat berm...